Pelatihan Jurnalistik

News

Kaliwungu – Mengejutkan, hampir semua peserta pelatihan jurnalistik dari SMK Takhasus Plus Al Mardliyah ternyata sudah tahu menulis berita dan karya sastra sesuai dengan standart.

Dikatakan Heri CahyoSantoso, salah-satu pelatih yang juga narasumber pada pelatihan jurnalistik yangdiikuti Siswa-Siswi TAM, Sabtu (15/12/2018) di Aula SMK Takhasus Plus AlMardliyah, Kaliwungu, Kendal, peserta pelatihan diajarkan teknik dasarpenulisan berita.

“5W-1H adalah unsur normatif wajib dipenuhi, semua peserta bisa memahami dengan cepat semua yang kami sampaikan. Kami ajarkan tatacara menulis, cara mengembangkan berita, bagaimana memproduksinya, dan berbagai macam jenis media masa.

Jurnalis Koran Jawa Pos, Radar Demarang, Budhi El Gibran, memberi apresiasi kepada seluruh peserta yang menunjukkan kemampuan serta mampu memahami setiap materi pelatihan jurnalistik yang disampaikan narasumber.

“Salut kepada teman teman-teman peserta, ternyata pelatihan jurnalistik ini tidak sia-sia, hasil penilaian tim pelatih ternyata semua yang memasukkan hasil menulis berita sudah memenuhi syarat sebagai karya jurnalistik meskipun sebagian besar masih kategori standar,” jelas Budhi El Gibran.

 “Semua agenda acara diikuti dengan baik seluruh peserta, terima-kasih banyak kepada semua narasumber dan pelatih jutrnalistik. Mudah-mudahan melalui pelatihan jurnalistik, siswa siswi SMK Takhasus Plus Al Mardliyah mampu menyesuaikan dengan perkembangan kemajuan informasi terutama perkembangan media online,” terang Heri Cahyo Santos.

Berikut karya sastra dari peserta pelatihan jurnalistik yang dipilih sebagai karya terbaik :

Sajak untuk Indonesia

Cipt : M Izzaul Faqihudin

Saya anggap Indonesiaitu seperti kapal tua

Yang tak taumengarah kemana, arahnya ada hanya nahkodanya yang tidak bisa membaca

Karena tertutupasa membabi buta

Sebab terlalusibuk mengurus anak, istri, keluarga, kolega, ataupun istri muda

Yang terditidari berbagai suku bangsa

Dari sumatera,Jawa, Madura hingga Papua

Tujuh kali sudahkita berganti nahkoda

Dari awalteriakan kata merdeka

Nahkoda yangpertama, sang Proklamator bersama Hatta

Cukup terkenaldikalangan wanita, kata mereka “beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia”, tapi itu kurang satu untuk jadi tim sepak bola, terus kapanIndonesia bisa masuk piala dunia

Nahkoda yangkedua, sang jendral penguasa orde lama bapak pembangunan bagi mereka, tapi bagisaya tidak ada bedanya, orang bersuara dimasanya akan hilang entah kemana

Nahkoda yangketiga,sang wakil yang nak tahta, yang turun karna bergejolaknya masa orba

Dibanggakan diJreman, dipermalukan di Indonesia

Jerman dapatilmunya, kita dapat apa?

Antrian panjangnonton filmnya

Nahkoda yangkeempat, sang kyai dengan hati terbuka yang harus turun karna sidang istimewa,katanya “gitu aja kok repot”

Nahkoda yangkelima, nahkoda pertama dari kalangan wanita, dari tangan ibunya lahir benderapusaka, kata bapaknya beri aku sepuluh pemuda tapi apa daya itu diluarkemampuan janda beranak dua

Nahkoda yangkeenam, dua kali pemilu menggulirkan namanya, dua kali sumpah atas nama garuda,tapi itu awal cerita di belakangnya

Nahkoda yangketujuh, lahir dari kalangan raja jawa dengan semangat tak putus asa untukmemajukan negeri Indonesia

Inilah ceritakapal tua kita, yang akan terus mengarungi samudera

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *